Uncategorized
Home / Uncategorized / Kisah Euforia PSM dari Lapangan Terbang Mandai

Kisah Euforia PSM dari Lapangan Terbang Mandai

Dua tahun berlalu, belum jauh dari ingatan sabtu sore (1/4-2023), suasana Bandara Sultan Hasanuddin diramaikan oleh riuh suporter. Kemeriahan ini tercipta atas pencapaian PSM Makassar meraih gelar juara Liga 1 musim kompetisi 2022/2023.

Kedatangan skuad PSM tergambar dengan perlahan turun dari pesawat diiringi dengan nyanyian berpadu yel-yel juara hingga Anthem PSM membahana di area kedatangan. Sambutan saat itu terasa emosional, karena butuh waktu 23 tahun untuk sebuah penantian PSM kembali juara.

Seluruh pemain PSM berjalan dalam pengawalan, sambil menyapa para suporter hingga menuju bus yang bersiap mengantar menuju mess pemain. Tampak para petugas bandara tak ingin melewatkan momentum tersebut, turut ramai-ramai mengajak pelatih hingga para pemain PSM untuk berfoto.

Kisah euforia dari Bandara menyambut kedatangan PSM, bukan sesuatu yang baru. Bukan juga dipahami sekadar aksi spontanitas dari kalangan suporter. Perayaan kemenangan dengan penyambutan pemain PSM dari bandara nyatanya sudah ada dalam lintasan sejarah PSM.

Kisah Euforia dari Lapangan Terbang Mandai

Dulu lapangan terbang Mandai cukup populer dan menjadi kisah euforia kemenangan PSM tahun 1959. Lapangan terbang Mandai menjadi saksi perjalanan PSM menjuarai kejuaraan PSSI tahun 1957 dan 1959. Dua kemenangan berturut-turut itu diraih PSM dalam ajang Piala Perserikatan PSSI sebelum menjadi kompetisi liga Indonesia saat ini.

Lapangan terbang Mandai saat itu digambarkan berbunga manusia (banyaknya manusia) dan disebut juga disesaki oto sedan terbuka (mobil pick up) menanti kedatangan PSM dari Jakarta. Kehadiran pencinta PSM diiringi penghormatan yang setinggi-tingginya menyambut duta-duta sepakbolanya setelah merebut kehormatan PSSI untuk kali kedua.

Kemeriahan lapangan terbang Mandai waktu itu disebutkan sebagai sesuatu wajar bagi penduduk SULSELRA (animo pendukung) terutama KBM (Kota Besar Makassar). Luapan pendukung PSM masa itu menciptakan kehebohan tersendiri dengan menyandingkan kira-kira sama meriahnya ketika rakyat Kota Rio de Janerio menyambut Kesebelasan BRAZILIA yang keluar sebagai juara dunia FIFA tahun 1958.

Bahkan dilukiskan seluruh Amerika Latin berpesta ria sebagai suatu pertanda kegembiraan dan kebanggaan terhadap bintang-bintang lapangan hijaunya telah merajai sepakbola dunia. Citra PSM turut juga disandingkan, sama halnya Ketika rakyat Indonesia menyambut kedatangan pahlawan THOMAS CUP yang disebut menghijrahkan Piala Thomas dari Malaya (Malaysia) setelah dimonopoli selama 9 tahun.

Era Kemunculan Bintang Muda PSM


Era tahun 1960 PSM makin giat melatih pemain-pemainnya, teristimewa munculnya pemain-pemain muda berbakat sebagai bintang remaja (yunior). Disebutkan munculnya bibit muda sebagai bintang gemerlapan memancarakan Cahaya) ditengah dataran rumput hijau, seperti :

1. A. Mangundap (19 tahun) pemain back dari MinaEsa.
2. M. Husain Hamid (18 tahun) seorang kiper Excelsior.
3. Rudolf Loupatty (23 tahun) pemain gelandang dari Persis
4. 4. Tjoan (22 th) gelandang dari VIOS.
5. M. Amien (22 th) gelandang darı MOS.
6. John Simon (19 th) spil dari MinaEsa.
7. Doppy Tupanalay (20 th) spil dari POM.
8. Solong (19 th) pemain depan dari MOS.
9. Kuruseng (22 th) pemain depan dari VIOS.
10. Ernest Takaendengan (24 th) kiri luar dari MinaEsa.

Kini ternyata (terbukti) bahwa Husain dan Mangundap telah dipergunakan (dipilih) oleh PSSI kelompok Junior. Kita mengharapkan kelanjutan potensi pemain muda PSM diatas ini untuk menanam saham (memberi andil) dalam tim kesebelasan Nasional kita.

Sejarah Lapangan terbang Mandai hingga Bandara Internasional Sultan Hasanuddin


Lapangan Terbang Mandai, yang sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, memiliki sejarah panjang yang dimulai pada masa penjajahan Belanda. Awalnya bernama Lapangan Terbang Kadieng, bandara ini kemudian berganti nama menjadi Lapangan Terbang Mandai setelah Jepang mengambil alih kekuasaan.

Bandara ini dibangun pada tahun 1935 dalam masa penjajahan Belanda dan diberi nama Lapangan Terbang Kadieng. Dalam masa pendudukan Jepang, turut mengubah nama bandara menjadi Lapangan Terbang Mandai pada tahun 1942.

Setelah Indonesia merdeka, bandara dikelola oleh pemerintah Indonesia dan namanya berubah menjadi Pelabuhan Udara Mandai.

Pada tahun 1980, nama bandara diubah menjadi Pelabuhan Udara Hasanuddin, dan kemudian menjadi Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada tahun 2004. Perubahan nama ini juga disertai dengan perpanjangan landasan pacu.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *