Inspirasi Koridor
Home / Koridor / Tio, Panggung, dan Harapan Seorang Ayah

Tio, Panggung, dan Harapan Seorang Ayah

Di rumah, Tio hanyalah anak saya. Anak yang dulu sering saya gendong ke taman, yang selalu merengek minta dibelikan es krim, dan yang suka menirukan gaya bicara orang-orang di televisi sambil membuat kami sekeluarga tertawa terbahak-bahak. Namun kini, dunia mengenalnya dengan cara berbeda — seorang stand-up comedian muda yang juga merambah dunia content creator.

Jujur saja, saya tidak pernah membayangkan jalan hidupnya akan seperti ini. Sebagai orang tua, saya sempat berharap Tio akan menempuh jalur yang lebih “aman”: sekolah yang baik, pekerjaan yang stabil, dan kehidupan yang teratur. Bukan berarti saya menolak mimpinya, tetapi di benak saya, panggung hiburan selalu terlihat penuh ketidakpastian. Bagaimana jika jalannya berliku? Bagaimana jika suatu saat ia merasa tersesat?

Namun, semua keraguan itu mulai terkikis ketika saya melihatnya pertama kali tampil di atas panggung. Malam itu, di sebuah kafe kecil yang dipenuhi penonton muda, Tio menggenggam mikrofon dengan tangan sedikit gemetar. Saya duduk di pojok ruangan, mencoba menahan napas. Ia membuka penampilannya dengan cerita sederhana tentang keseharian kami di rumah — cerita yang kemudian disambut tawa gemuruh. Malam itu, saya sadar: Tio menemukan panggungnya sendiri.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Ada malam-malam ketika ia pulang dengan wajah murung karena penonton tak merespons leluconnya. Ada hari-hari ketika ia merasa buntu, tidak tahu harus menulis materi apa untuk penampilan berikutnya. Bahkan saat mulai merambah dunia konten digital, tantangan tidak berkurang. Mengatur jadwal syuting, mengedit video hingga larut malam, dan mengatasi komentar pedas netizen menjadi bagian dari kesehariannya.

Pernah suatu malam, saya menemukannya duduk di ruang kerjanya dengan mata sembab. Ia baru saja mengunggah video yang menurutnya akan “meledak”, tetapi ternyata tidak mendapatkan respons sesuai harapan. Saya hanya duduk di sampingnya, menepuk bahunya, dan berkata, “Jalan panjang, Nak. Tidak ada sukses yang datang instan. Yang penting kamu tetap jujur sama proses.” Kata-kata itu mungkin sederhana, tetapi sejak malam itu, saya melihatnya menjadi lebih tangguh.

Meneropong Landskap Kota yang Sibuk

Dunia stand-up dan konten digital bukan dunia yang sederhana. Di balik setiap tawa penonton dan ribuan like di media sosial, ada jam-jam panjang di depan laptop, memoles naskah, mengedit video, dan berlatih di depan cermin. Ada kegagalan yang tak pernah tampak — panggung yang sepi penonton, materi yang tidak mengena, komentar pedas yang menusuk hati.

Namun perlahan, kerja kerasnya mulai berbuah. Undangan tampil di berbagai acara mulai berdatangan. Kontennya di media sosial mendapat lebih banyak apresiasi. Ia bahkan mulai dihubungi oleh brand-brand yang ingin bekerja sama. Melihat perkembangan itu, perasaan waswas yang dulu menghantui saya perlahan berubah menjadi rasa bangga.

Sebagai orang tua, saya belajar banyak dari perjalanan ini. Belajar untuk menahan keinginan mengarahkan, belajar melepaskan ekspektasi, dan belajar percaya bahwa anak-anak zaman sekarang memiliki cara mereka sendiri untuk berproses. Tugas kami hanya memastikan bahwa ketika dunia luar terasa terlalu bising, rumah selalu menjadi tempat paling aman untuk kembali.

Kini, harapan saya sederhana: semoga Tio tetap membumi. Semoga ia terus menjaga nilai-nilai yang kami tanamkan sejak kecil — kerja keras, kejujuran, dan kerendahan hati. Apa pun panggung yang kelak ia tapaki, entah itu skala nasional atau bahkan internasional, saya hanya ingin ia tetap menjadi Tio yang dulu: anak yang selalu tahu jalan pulang.

Perjalanan Tio mengajarkan saya bahwa cinta orang tua bukanlah mengendalikan, tetapi mendukung. Bahwa kadang, tugas kita hanyalah berdiri di belakang, menjadi penonton setia yang selalu siap bertepuk tangan, bahkan ketika panggungnya sepi penonton. Dan di setiap langkahnya, doa saya selalu sama: semoga tawa yang ia bagi ke dunia, suatu hari juga membawa kebahagiaan yang berlipat ganda kembali kepadanya.

Dari Tanah Tumbuh Harapan : Jejak Kisah dari Jambore Ruang 3 di Barru

Penulis : Mashud Azikin (sebuah catatan Refleksi Seorang Ayah)

Mashud Azikin adalah seorang ayah dengan 3 anak yang mendedikasikan hidupnya untuk ecoenzym. Melalui komunitasnya, Manggala Tanpa Sekat (MTS) mengembangkan ecoenzym sebagai sebuah solusi bagi persoalan sampah organik di Kota Makassar. Kiprahnya turut membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar dengan melakukan penyiraman ecoenzym ke kolam lindi dan TPA Tamangapa.
Pengaplikasian ecoenzym di TPA Tamangapa diharapkan dapat mempercepat proses dekomposisi, sehingga volume sampah dapat dikurangi, dengan kondisi sampah dominan di TPA adalah sampah organik. Bersama istrinya Hamidah, ikut memberdayakan ibu-ibu rumah tangga yang sebagian besar adalah pensiunan, yang berada di sekitar lingkungannya untuk bisa produk ecoenzym ini secara mandiri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *