Koridor.News, Makassar – Di sebuah ruang kelas di SD Islam Athirah 2 Bukit Baruga Kec. Manggala, suasana belajar tampak berbeda pada Sabtu pagi, 30 Agustus 2025. Kegiatan bertajuk “Eco Creative Learning: Inovasi Guru untuk Generasi Hijau” digelar dihadapan guru-guru SD Islam Athirah dan komunitas pendidikan sekitar.
Founder Manggala Tanpa Sekat (MTS), Mashud Azikin, hadir dalam memberikan nuansa belajar dari bumi untuk bumi, selaku narasumber utama. Materi inti yang disampaikan mengupas pemanfaatan ecoenzym sebagai inovasi sederhana namun efektif dalam membentuk karakter peduli lingkungan sejak dini.
Menghadirkan Kelas Kreatif
Dalam paparannya, Mashud Azikin menekankan pentingnya mengubah cara pandang pendidikan dari sekadar teori menjadi praktik nyata. Ia mengajak guru-guru peserta untuk memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai laboratorium belajar.
“Anak-anak bukan cuma diajari untuk tahu, tapi juga untuk peduli. Mereka belajar bahwa bumi ini bukan warisan dari orang tua, melainkan titipan untuk anak cucu,” ujar Mashud, disambut anggukan para guru yang hadir.
Praktik nyata secara langsung dilakukan. Para guru mencoba membuat larutan ecoenzym dari sisa dapur, yang kelak bisa digunakan untuk membersihkan lingkungan sekolah atau menyiram tanaman. Aktivitas ini mengajarkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat berpadu dengan aksi nyata.
Kreativitas Sebagai Jembatan
Di era digital, tantangan bagi guru adalah menghadirkan pembelajaran yang relevan dan menarik. Melalui pendekatan Eco Creative Learning, para guru belajar bagaimana mengintegrasikan teknologi, seni, dan sains dalam pembelajaran.
Contohnya, guru tidak hanya mengajarkan fotosintesis melalui papan tulis, tetapi juga mengajak siswa menanam bibit sayuran di halaman sekolah, mendokumentasikan pertumbuhannya dengan kamera ponsel, lalu menyusun jurnal digital bersama.
Pendekatan ini tidak hanya melatih keterampilan berpikir kritis dan kolaboratif, tetapi juga menanamkan semangat gotong royong ekologis di kalangan anak-anak.
Sekolah sebagai Ekosistem Hijau
Penerapan konsep ini membutuhkan dukungan seluruh ekosistem sekolah. Kepala sekolah SD Islam Athirah menegaskan bahwa sekolah siap menjadi laboratorium hijau yang mendukung pembelajaran kreatif.
Halaman sekolah yang sebelumnya kosong kini dirancang untuk menjadi kebun edukasi, di mana anak-anak dapat belajar bercocok tanam, membuat kompos, hingga memanfaatkan ecoenzym untuk perawatan tanaman.
Orang tua siswa pun dilibatkan, baik melalui penyediaan bibit, pendampingan anak, hingga berbagi pengalaman praktis tentang pengelolaan sampah rumah tangga.
Menyiapkan Generasi Hijau
Kegiatan ini tidak hanya memberikan ilmu baru, tetapi juga kesadaran mendalam bagi para pendidik bahwa pembentukan karakter peduli lingkungan dimulai dari langkah-langkah kecil.
Anak-anak yang terbiasa memilah sampah, menanam pohon, atau membuat larutan ecoenzym akan tumbuh dengan kesadaran ekologis yang kuat. Mereka menjadi generasi hijau, generasi yang bukan hanya cerdas secara akademis tetapi juga peduli dan siap memberikan solusi terhadap tantangan lingkungan global.
Guru sebagai Agen Perubahan
Mashud Azikin mengakhiri sesinya dengan pesan mendalam:
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga inspirator. Dengan sedikit kreativitas, ruang kelas bisa menjadi taman belajar yang menumbuhkan cinta pada bumi. Pendidikan hijau bukan mimpi, asalkan kita berani memulai.”
Pesan ini menggema di ruang kelas, menguatkan tekad para guru SD Islam Athirah untuk menjadi motor perubahan dalam mewujudkan pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, dan berkelanjutan.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Kegiatan Eco Creative Learning ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi pendidikan tidak selalu membutuhkan biaya mahal atau teknologi rumit. Dengan kreativitas dan kolaborasi, guru dapat membentuk ruang belajar yang menghidupkan nilai keberlanjutan.
Di tangan para pendidik kreatif, kelas bukan lagi sekadar ruang berbatas dinding. Ia menjadi taman belajar, tempat generasi hijau lahir, tumbuh, dan siap membawa perubahan menuju masa depan bumi yang lebih lestari.



Comment