Koridor.News Makassar – Di tengah tantangan keterbatasan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, sebuah terobosan inovatif lahir dari Universitas Muslim Indonesia (UMI). Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2025, dosen dan mahasiswa lintas fakultas menghadirkan solusi nyata bagi siswa difabel di SLB Negeri 1 Makassar. Inovasi itu bernama HarakaTouch, sebuah media pembelajaran digital berbasis komunikasi taktil dan auditori yang dirancang khusus untuk memudahkan siswa difabel dalam mempelajari huruf dan harakat hijaiyah.
Program ini berjalan sejak Juni hingga Agustus 2025 dan melibatkan tidak hanya akademisi, tetapi juga guru serta siswa SLB. Judul yang diusung, “Digital Multisensory Learning: Pemberdayaan Difabel dalam Pembelajaran Harakat Hijaiyah Berbasis Komunikasi Taktil dan Auditori”, mencerminkan semangat kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan komunitas dalam mewujudkan pendidikan agama yang inklusif dan berkeadilan.
Dari Kampus ke Sekolah: Sinergi Ilmu dan Pengabdian
Program PKM ini dipimpin oleh Ir. St. Hajrah Mansyur, S.Kom., M.Cs., MTA., dosen Prodi Sistem Informasi FIKOM UMI. Ia tidak berjalan sendiri, melainkan didampingi oleh tim yang terdiri atas Lutfi Budi Ilmawan, S.Kom., M.Cs., MTA. (dosen Prodi Teknologi Informasi FIKOM), Dr. Ratika Nengsi, S.Pd.I., M.Pd.I. (dosen Fakultas Agama Islam), serta empat mahasiswa FIKOM: Meydil Eka Syah Putra, Moh. Fathur Rahmansyah, Nurul Hidayah, dan Suryati.
SLB Negeri 1 Makassar sebagai mitra pelaksana memberikan dukungan penuh. Kepala sekolah, Andi Hamjan, S.Pd., M.Pd., bahkan menyebut program ini sebagai momentum berharga bagi sekolah. “HarakaTouch menjadi jembatan bagi anak-anak difabel untuk mengenal huruf dan harakat hijaiyah dengan cara yang sesuai kebutuhan mereka. Ini langkah besar menuju pendidikan agama yang setara,” ungkapnya.
Sebanyak 15 guru dan 16 siswa difabel terlibat aktif dalam program ini. Rangkaian kegiatan mencakup koordinasi dan sosialisasi, pelatihan guru, pelatihan siswa, penerapan media pembelajaran digital, pendampingan, monitoring dan evaluasi berkala, hingga refleksi serta pelaporan. Sebagai tindak lanjut, tim juga memfasilitasi pembentukan Komunitas Guru Hijaiyah Inklusif, sebuah wadah untuk menjaga keberlanjutan program pasca kegiatan PKM.
HarakaTouch: Menyentuh, Mendengar, dan Belajar
Di balik nama HarakaTouch, terdapat filosofi sederhana namun mendalam: menyentuh (touch) untuk merasakan huruf hijaiyah, mendengar (auditory) untuk mengingat bunyi, dan belajar dengan lebih bermakna melalui pengalaman multisensori.
Media ini dikembangkan berdasarkan prinsip need-based adaptive learning, sebuah pendekatan yang menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan khusus siswa. Siswa difabel, khususnya tunanetra dan tunarungu, dapat berinteraksi dengan huruf dan harakat hijaiyah melalui kombinasi stimulus taktil (sentuhan) dan auditori (bunyi). Dengan demikian, keterbatasan visual atau pendengaran tidak lagi menjadi penghalang mutlak dalam mengenal dasar-dasar membaca Al-Qur’an.
Menurut Ketua Tim, St. Hajrah Mansyur, HarakaTouch lahir dari keprihatinan sekaligus semangat inovasi. “Selama ini, siswa difabel menghadapi keterbatasan akses terhadap media pembelajaran agama yang sesuai. HarakaTouch hadir sebagai alternatif yang inklusif, menyenangkan, dan adaptif. Tujuannya bukan sekadar mengajar, tetapi juga membangun kemandirian dan percaya diri siswa difabel,” tegasnya.
Guru yang Terberdayakan, Siswa yang Termotivasi
Dampak nyata dari program PKM ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga para guru SLB Negeri 1 Makassar. Melalui pelatihan intensif, guru dibekali keterampilan baru dalam memanfaatkan media digital untuk pembelajaran agama.

Pelatihan tersebut mencakup pengenalan fitur HarakaTouch, teknik penerapan di kelas, hingga strategi evaluasi pembelajaran. Guru tidak lagi terpaku pada metode konvensional yang seringkali terbatas, melainkan memiliki alternatif inovatif untuk menyampaikan materi. “Guru bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga menjadi penggerak. Dengan adanya komunitas guru hijaiyah inklusif, keberlanjutan pemanfaatan HarakaTouch akan lebih terjamin,” jelas Lutfi Budi Ilmawan.
Sementara itu, siswa difabel tampak lebih antusias dalam belajar. Melalui kombinasi sentuhan dan suara, mereka dapat mengenali huruf dan harakat hijaiyah dengan lebih cepat. Menurut salah satu guru peserta, pengalaman multisensori ini membuat proses belajar terasa seperti bermain sambil beribadah, sehingga motivasi anak meningkat.
Menyatu dengan Agenda Strategis Nasional dan Global
Program PKM ini tidak berdiri sendiri, melainkan selaras dengan agenda strategis nasional maupun global. Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs), HarakaTouch mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dengan memastikan akses pendidikan inklusif untuk difabel, serta SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, dengan membuka peluang setara dalam pembelajaran agama.
Terkait Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, program ini berkontribusi pada:
- IKU 2: keterlibatan mahasiswa dalam pengabdian masyarakat di luar kampus,
- IKU 3: kontribusi dosen dalam pelatihan guru dan pengembangan media,
- IKU 5: pemanfaatan langsung luaran program berupa media dan modul oleh mitra.
Selaras dengan Asta Cita Nasional, program ini berkontribusi terhadap misi peningkatan kualitas SDM difabel, pembangunan dari desa dan komunitas bawah untuk mengurangi kesenjangan, serta pendidikan agama inklusif. Lebih jauh, relevansi dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) tampak jelas melalui fokus pada riset pendidikan inklusif, integrasi teknologi dalam pembelajaran adaptif, dan pemberdayaan sosial-ekonomi difabel berkelanjutan.
Harapan untuk Masa Depan
Keberhasilan HarakaTouch dalam tahap awal implementasi di SLB Negeri 1 Makassar memberi harapan besar. Kepala sekolah, Andi Hamjan, menilai bahwa program ini bukan hanya solusi sementara, melainkan fondasi untuk masa depan pendidikan agama inklusif. “Dengan dukungan teknologi seperti HarakaTouch, anak-anak difabel memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi di masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, tim PKM UMI berencana memperluas jangkauan pemanfaatan HarakaTouch ke sekolah-sekolah inklusi lain, sekaligus mengembangkan versi aplikasi yang lebih interaktif. Dengan melibatkan lebih banyak komunitas guru dan mahasiswa, diharapkan HarakaTouch dapat menjadi model nasional inovasi pendidikan inklusif berbasis teknologi.
Menyatukan Ilmu, Iman, dan Kemanusiaan
Lebih dari sekadar program pengabdian, PKM ini adalah refleksi dari misi perguruan tinggi: menyatukan ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian sosial. Kehadiran HarakaTouch menegaskan bahwa teknologi bukan hanya milik industri atau bisnis, melainkan juga instrumen mulia untuk melayani kelompok rentan.
Sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ratika Nengsi, “Pendidikan agama harus bisa dirasakan semua orang tanpa terkecuali. HarakaTouch adalah bukti nyata bahwa teknologi, jika diarahkan dengan benar, dapat menjadi rahmat bagi seluruh umat.” Dengan demikian, PKM Digital Multisensory Learning bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga wujud nyata pengabdian UMI untuk membangun masyarakat inklusif, berkeadilan, dan berdaya saing global.



Comment