Inspirasi koridor
Home / Koridor / koridor / Kopi, Pagi, dan Cerita-Cerita Tak Berujung

Kopi, Pagi, dan Cerita-Cerita Tak Berujung

Ada masanya intensitas perjumpaan atas nama pertemanan kian berkurang. Bukan karena Mark Zuckerberg telah menemukan definisi baru ‘pertemanan’. Tapi koneksi medsos bikinannya tak mampu menggantikan peran manusia sebagai makhluk sosial, makhluk unik, dan makhluk lucu

Seperti kemarin (27/8/2025) dan juga hari-hari sebelumnya, tatap muka dan interaksi secara rutin terbangun dari mimpi malam demi kopi pagi. Di salah satu petakan rumah komp. CV. Dewi menjadi titik kumpulnya ekspresi, dinamika hidup, dan juga harapan. Ingatan ngopi pagi di hari Rabu dan Sabtu ini telah mampu mengalahkan ingatan pada mantan pacar.

Intensitas dan frekuensi pertemuan bagi kaum urban kian sulit. Waktu yang demikian menyibukkan. Di jalan-jalan protokol, rona kemacetan menjadi menu harian warga kota. Potensi membuat tekanan bisa naik turun. Mudah marah, sulit tersenyum, dan kepala kita menjadi aktor tunggal kecemasan dan stres. Mulai dari masalah isi dompet, utang belum lunas, problema hidup dan penolakan masa lalu.

Untuk ukuran mahasiswa, tekanannya satu strip di bawah atau mungkin sebanding. Saat seminar proposal skripsi. Posisi paling di atas, tekanan digambarkan saat menunggu kelahiran anak pertama. Dan kaum hawa dipahami memiliki tekanan paling besar, bahkan melampaui tekanan itu sendiri. Itulah hidup, jalan dari embrio baru kehidupan.

Kembali kita suasana pagi yang telah membawa ke dalam pesona perjalanan panjang dari waktu. Dari masa lalu yang pahit menuju secangkir kopi susu yang hangat. Ia bisa konek dengan peristiwa dan bersenyawa secara acak.

Dari Tanah Tumbuh Harapan : Jejak Kisah dari Jambore Ruang 3 di Barru

Kepada rasa yang tertinggal di rumah, di kantor, di pasar, di kampus. Pada anak dan keluarga, soal dapur dan bisnis, hingga impian dan proyeksi masa depan, menjadi topik obrolan dan cerita-cerita tak berujung.

Sesekali letupan canda direspon senyum dan tawa, itulah fakta yang tak bisa dikesampingkan.Rutinitas telah memahat memori dan ingatan. Karena seringnya berjumpa hingga kita tak butuh lagi bantuan chatbot AI dalam membaca pikiran.

Dari kisah yang dilebih-lebihkan untuk tidak dipercaya hingga ketidaksempurnaan manusia untuk harap dimaklumi. Terima kasih telah baca tulisan ini, kurang lebih mohon dimaafkan. Sampai jumpa dalam cerita-cerita selanjutnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *