Pendidikan Pengabdian kepada Masyarakat
Home / Pendidikan / Pengabdian kepada Masyarakat / SK Ulu Sedaka Percepat Transformasi Digital, UMI Latih Guru dan Siswa Gunakan Google Workspace

SK Ulu Sedaka Percepat Transformasi Digital, UMI Latih Guru dan Siswa Gunakan Google Workspace

Kedah, Malaysia — Upaya memperkecil jurang digital di kawasan luar bandar mendapat dorongan baru setelah Sekolah Kebangsaan (SK) Ulu Sedaka, Yan, Kedah, menjadi lokasi pelaksanaan pelatihan penggunaan Google Workspace for Education oleh tim dosen Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Muslim Indonesia (UMI). Program dua hari yang dilanjutkan pendampingan selama sebulan ini mencatat hasil signifikan: kompetensi digital guru dan siswa meningkat tajam.

Kegiatan pengabdian masyarakat yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2025 itu melibatkan 20 peserta, terdiri dari guru dan murid. Mereka dibekali keterampilan praktis menggunakan Google Classroom, Drive, Docs, Sheets, dan Meet, yang kini menjadi perangkat standar pembelajaran digital di banyak sekolah modern.

“Guru-guru kami selama ini ingin belajar teknologi tetapi minim kesempatan. Program ini membuka jalan bagi kami untuk benar-benar masuk ke era digital,” ujar Kepala SK Ulu Sedaka dalam sesi penutupan kegiatan.

Sekolah Luar Bandar Masih Hadapi Jurang Digital

Walau program transformasi digital sekolah menjadi agenda nasional Malaysia melalui TS25 (Transformasi Sekolah 2025), implementasi di daerah seperti Yan masih menghadapi hambatan. Banyak guru berusia di atas 40 tahun belum terbiasa dengan gawai dan platform digital. Keterbatasan infrastruktur internet serta komputer yang tidak terintegrasi juga memperlambat proses digitalisasi.

Menuju Smart Village: Desa Biji Nangka akan Menerapkan Sistem Layanan Mandiri untuk Efisiensi Administrasi Publik Bersama FIKOM UMI

Situasi makin terasa saat pandemi COVID-19 ketika pembelajaran daring diberlakukan. Banyak sekolah di luar bandar mengalami learning loss akibat ketidaksiapan sistem dan tenaga pendidik.

Kondisi inilah yang menjadi dasar bagi tim UMI untuk merancang pelatihan intensif berbasis praktik langsung (hands-on workshop) yang diikuti pendampingan peer mentoring. Model ini memungkinkan guru muda yang lebih melek teknologi menjadi mentor bagi rekan sejawatnya.

Nilai Post-test Melonjak, Guru Mulai Rutin Gunakan Classroom

Salah satu indikator keberhasilan program terlihat dari hasil evaluasi. Peserta mencatat rata-rata 68,5% pada pre-test, namun setelah rangkaian pelatihan dan pendampingan selesai, nilai tersebut meningkat menjadi 87,2%, atau terjadi lonjakan 18,7 poin—sebuah hasil yang dinilai “sangat signifikan” untuk kategori pelatihan digital di sekolah luar bandar.

Aspek yang mengalami peningkatan paling menonjol ialah:

Dosen UMI Dampingi Guru SDIT Wahdah Antang Makassar Kuasai Literasi Ilmiah berbasis Digital

  • Pembuatan kelas digital di Google Classroom
  • Kolaborasi dokumen menggunakan Google Docs
  • Manajemen arsip digital di Google Drive

“Dulu kami hanya menggunakan WhatsApp untuk berbagi bahan ajar. Sekarang hampir semua guru sudah mencoba Google Classroom,” ungkap salah satu guru peserta pelatihan.

Kepuasan Mitra Capai 92%, Tim IT Sekolah Terbentuk

Tidak hanya kompetensi meningkat, tingkat kepuasan peserta juga sangat tinggi. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan, 92% peserta menyatakan sangat puas dengan materi dan metode pelatihan.

Peserta menilai pelatihan interaktif dan mudah diikuti, terutama karena semua instruksi dipraktikkan langsung menggunakan perangkat yang tersedia. Pendekatan peer mentoring juga dianggap membantu guru senior yang membutuhkan pendampingan lebih intens.

Dampak nyata lainnya adalah terbentuknya tim IT sekolah, yang kini berfungsi sebagai motor penggerak digitalisasi internal. Tim ini dibentuk dari guru-guru yang menunjukkan kemampuan tinggi selama pelatihan dan siap mendampingi rekan-rekan lainnya.

Santri Pesantren Al Manar Sanrego Didorong Jadi Wirausahawan Muda : Kolaborasi Dosen UMI dan Mahasiswa Hadirkan Pelatihan Santripreneur Berbasis Muamalah Islam dan Teknologi

Masalah Klasik: Internet Lemah dan Waktu Terbatas

Meski berjalan positif, kegiatan ini tidak lepas dari sejumlah tantangan. Pelaksanaan beberapa sesi sempat terhambat oleh jaringan internet yang lemah. Guru senior juga membutuhkan waktu ekstra untuk memahami langkah-langkah teknis.

Selain itu, durasi dua hari pelatihan dianggap belum cukup untuk mempelajari fitur lanjutan seperti integrasi Google Form dalam penilaian otomatis atau kolaborasi berbasis Google Sites.

Model Pelatihan yang Siap Direplikasi di Sekolah Lain

Keberhasilan pelatihan di SK Ulu Sedaka menunjukkan bahwa transformasi digital bukan hanya milik sekolah perkotaan. Dengan pendekatan yang tepat, sekolah luar bandar pun mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Tim UMI merekomendasikan agar pelatihan serupa dilakukan secara berkala dan diperluas ke sekolah lain di Kedah maupun wilayah luar bandar lainnya.

“Transformasi digital harus inklusif. Sekolah luar bandar punya potensi besar, hanya butuh pendampingan yang tepat,” ujar ketua tim pelaksana pengabdian UMI.

Transformasi Digital di Titik Awal Baru

Pelatihan Google Workspace for Education ini menjadi tonggak penting bagi SK Ulu Sedaka dalam melangkah ke era pembelajaran abad ke-21. Peningkatan kompetensi guru, tingginya kepuasan peserta, serta terbentuknya tim IT sekolah menjadi bukti bahwa digitalisasi dapat diterapkan secara nyata meski dalam keterbatasan infrastruktur. Program ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi katalis bagi perubahan budaya belajar-mengajar di sekolah luar bandar.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *